Sabtu, 13 Agustus 2011

Info Beasiswa Belajar Bersama Bang AFIM 2011-2012

Pendaftaran Beasiswa Belajar Bersama Bang AFIM 2011-2012 telah dibuka!

Belajar bersama Bang Afim
Program interkoneksitas yang menyediakan biaya kuliah dan bimbingan akademik

Program
- Biaya pendidikan (SPP,biaya hidup, biaya buku)
- Bimbingan akademik
Persyaratan
- Mahasiswa S1 semua jurusan, PTN, minimal Semester 3
- Curricullum Vitae 1 lembar
- Surat Motivasi 1 lembar
- Memiliki prestasi akademik yang baik
- Mengalami keterbatasan ekonomi

Panduan
- Unduh formulir: www.ppi-montpellier.comule.com
- Aplikasi dikirim ke: afim.montpellier@gmail.com
- Pendaftaran ditutup: 20 Agustus 2011
- Pengumuman online: 01 Oktober 2011
sumber: group facebook FULDKT-Indonesia

Info Beasiswa BCA Finance Peduli 2011

Beasiswa 2011 BCA Finance peduli
untuk 40 mahasiswa/i berprestasi(maks pemberian sampai s/d semester 8)
total Rp. 567.000.000,-

persyaratan:
a. S-1
b. minimal telah/sedang menyelesaikan semester 2
c. mengisi formulir beasiswa(dapat diambil di BK masing" atau download di www.bcafinance.co.id dan harap letakkan formulir di halaman depan)
d. melampirkan transkrip nilai semester terakhir dg IPK min (PTN:3,00 dan PTS:3,4)
e. Melampirkan surat keterangan tidak mampu dari institusi berwenang dari daerah sesuai KTP.
f. Melampirkan fotokopi kartu mahasiswa atau KTP
g. Tidak sedang menerima beasiswa dari pihak manapun.
h. Berkas yang tidak memenuhi syarat tidak akan diproses.

Berkas persyaratan paling lambat kami terima tanggal 14 Oktober 2011(Cap Pos) Ke:
PT. BCA FINANCE
Up. Corporate Planning
Wisma BCA Pondok Indah Lt. 8
Jl. Metro Pondok Indah No. 10
Jakarta 12310
Cantumkan nama Universitas, Fakultas dan Nama Kota pada amplop sudut kiri atas

Penerima beasiswa akan diumumkan pada tanggal 10 November 2011 melalui website
www.bcafinance.co.id
sumber: group facebook FULDKT-Indonesia

Senin, 11 Juli 2011

Kisah Shahabat (Abu Ubaidah bin Jarrah r.a.)

Dialah Abu Ubaidah ra., orang yang disabdakan Rasulullah saw.,”Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.” Dialah orang yang diutus oleh Rasulullah pada perang Dzatus-Salasil untuk membantu Amr bin Ash dan dijadikan komandan pasukan. Pada saat itu Abu Bakar ra.dan Umar ra. masih sebagai prajurit.Dialah generasi sahabat yang pertama kali dijuluki panglima besar. Perawakannya tinggi, badannya kurus, berjenggot tipis, dan sedikit ompong karena kedua gigi depannya yang patah.

Abu Ubaidah masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, di hari-hari pertama perjalanan agama Islam, bahkan sebelum Rasulullah saw. melakukan dakwah di rumah Arqam. Ia termasuk yang ikut hijrah ke Habasyah (Ethiopia) pada gelombang kedua. Kemudian pulang dari Habasyah untuk bergabung bersama Rasulullah saw. di Perang Badar, Uhud, dan peperangan lainnya.

Sejak mengucapkan sumpah setia kepada Rasulullah saw. untuk membaktikan hidupnya di jalan Allah, dia sudah siap berkorban apa saja untuk Allah. Sejak saat itu, ia meyakini bahwa seluruh hidupnya adalah titipan Allah yang harus dipergunakan untuk mencari ridha-Nya. Ia tidak pernah menggunakan hidupnya untuk mencari keuntungan pribadi atau memnuhi kepentingan sendiri. Keinginan atau kebencian apapun tidak bisa memalingkan hidupnya dari jalan Allah.

Rasa tanggung jawab terhadap tugas adalah sifat utama Abu Ubaidah. Pada Perang Uhud misalnya, ia merasakan keinginan kuat pasukan musuh untuk membunuh Rasulullah saw. Karena itu ia putuskan untuk selalu berada dekat disisi Rasulullah saw. Ia tebaskan pedangnya kesetiap arah tentara musuh yang berusaha memadamkan cahaya Allah. Jika kondisi pertempuran memaksanya menjauh dari posisi Rasulullah saw., maka sorot matanya senantiasa menuju kepada Rasulullah saw. dengan perasaan cemas. Jika dilihatnya ada bahaya yang mendekati Rasulullah saw., ia bagaikan anak panah yang disentakkan dari tempatnya lalu melompat menerkam musuh-musuh Allah, dan menghalau mereka dengan pedangnya sebelum mereka sempat mencederai beliau.

Suatu ketika, saat pertempuran berkecamuk dengan hebat, ia terpisah dari Rasulullah saw. karena terkepung tentara musuh. Namun seperti biasa, kedua matanya bagai mata elang yang mengintai keadaan sekitarnya. Hampir saja ia gelap mata ketika melihat sebuah anak panah meluncur dari tangan seorang tentara musyrik mengenai Rasulullah saw. Ia tebaskan pedangnya ke kanan dan ke kiri dengan cepat, bak seratus pedang berkelebatan mengobrak-abrik orang-orang yang mengepungnya. Mereka kocar-kacir. Dengan cepat, Abu Ubaidah melompat ke arah Rasulullah saw. Ia mendapati darah mengalir dari wajah beliau. Rasulullah saw. mengusapnya dengan tangan kanan, dan bersabda “Bagaimana mungkin bahagia suatu kaum yang mengotori wajah Nabi mereka, padahal Nabi itu menyeru mereka untuk menyembah Tuhan mereka?!”

Marilah kita dengar kisah ini dari Abu Bakar,” Pada Perang Uhud, Rasulullah saw. terluka. Dua buah mata rantai penutup kepalanya masuk ke kedua pipi beliau bagian atas. Aku berlari ke arah Rasulullah saw. Ku lihat dari arah timur ada seorang laki-laki seperti terbang menuju ke arah Rasulullah saw. Aku bergumam,’Mudah-mudahan itu pertolongan’. Ketika kami sampai di dekat Rasulullah saw. ternyata laki-laki itu adalah Abu Ubaidah. Ia datang lebih cepat dariku. Ia berkata,’Dengan Nama Allah, biarkan aku yang menolong Rasulullah saw. Biarkan aku yang mencabut mata rantai dari pipi beliau.’ Aku setuju. Abu Ubaidah mencabut mata rantai tersebut dengan giginya. Ia segera menggigit satu mata rantai itu lalu menariknya dengan kuat dari pipi Rasulullah saw. hingga tercabut keluar. Bersamaan dengan itu, satu gigi depan Abu Ubaidah juga lepas. Lalu ia melanjutkannya dengan mata rantai yang kedua hingga tercabut keluar, dan gigi depan Abu Ubaidah yang satunya pun tercabut. Abu Ubaidah kehilangan dua giginya.”

Rasulullah saw. sangat sayang dan percaya kepada Abu Ubaidah. Ketika suatu hari rombongan utusan Najran dari Yaman datang ke Madinah untuk menyatakan keislaman mereka, kepala rombongan memohon pada Rasulullah saw. agar mengutus seorang guru yang dapat pulang bersama mereka untuk mengajarkan Al-Qur’an, As-Sunah dan ajaran Islam. Rasulullah saw. berkata kepada mereka, “Baiklah, aku akan mengirim bersama kalian orang yang terpercaya. Dia benar-benar terpercaya. Dia benar-benar terpercaya. Dia benar-benar terpercaya.”

Marilah kita dengar kisah selanjutnya dari Umar bin Khattab,”Aku sama sekali tidak suka jabatan. Namun kali ini aku menginginkannya, karena aku ingin mendapatkan kesaksian Rasulullah saw. itu. Aku berangkat shalat zuhur di awal waktu. Setelah shalat berjamaah selesai, Rasulullah saw.mengucapkan salam, melihat ke kanan dan ke kiri. Aku tampakkan kepalaku agar dapat dilihat Rasulullah saw. Namun Beliau terus mencari-cari hingga melihat Abu Ubaidah. Lalu Beliau memanggilnya, dan bersabda ”Pergilah bersama mereka. Putuskan perkara mereka dengan kebenaran.” Maka, Abu Ubaidah berangkat mengemban tugas itu.”

Waktu berjalan sesuai dengan Sunatullah, Rasulullah saw. wafat dan digantikan oleh Khalifah Abu Bakar ra. Dan Abu Bakar wafat, tampuk kepemimpinan kaum muslimin di emban oleh Amirul Mukminin Umar ibnul Khattab ra.

Kemanapun panji Islam bergerak, Abu Ubaidah dengan setia berjalan dibawahnya. Ketika sebagai prajurit, ia bagaikan seorang panglima, karena keistimewaan dan keberaniannya. Ketika sebagai panglima, ia bagaikan seorang prajurit biasa karena keikhlasan dan sikap rendah hatinya.

Tatkala Khalid bin Walid memimpin pasukan Islam dalam suatu pertempuran besar yang menentukan, tiba tiba Khalifah Umar ra. Mengeluarkan perintah pengangkatan Abu Ubaidah menggantikan posisi Khalid. Ketika berita itu diterima Abu Ubaidah dari utusan Khalifah, ia meminta utusan itu untuk menyimpan berita ini. Abu Ubaidah sendiri mendiamkan permasalahan ini, layaknya seorang zuhud, bijaksana, dan terpercaya, hingga Khalid menuntaskan peperangan dengan kemenangan pasukan Islam. Setelah itu baru ia menghadap Khalid dengan penuh hormat dan memberikan surat perintah dari Khalifah.

Khalid bertanya,”Semoga Allah memberimu rahmat, wahai Abu Ubaidah. Mengapa tidak kamu sampaikan kepadaku saat kau terima surat ini?”Abu Ubaidah menjawab,”Aku tidak ingin menghentikan peperanganmu. Bukan kekuasaan dunia yang kita tuju, dan bukan untuk dunia kita berbuat. Kita semua adalah saudara yang memperjuangkan agama Allah.”

Abu Ubaidah menjadi panglima besar di Syam. Suatu ketika, Khalifah Umar mengunjungi Syam. Ia bertanya kepada orang-orang yang menyambut kedatangannya, ”Dimana saudaraku?”Mereka balik bertanya,”Siapa?”Khalifah Umar menjawab, ”Abu Ubaidah.”Abu Ubaidah datang, lalu Khalifah Umar merangkulnya. Khalifah Umar di ajak ke rumahnya. Ternyata, di rumah Abu Ubaidah tidak terdapat perabotan rumah tangga sama sekali, yang terlihat hanya sebuah perisai, dan pelana kuda. Dengan tersenyum, Khalifah Umar bertanya, ”Mengapa kamu tidak memperlakukan dirimu seperti orang-orang kebanyakan?”Abu Ubaidah menjawab,”Wahai Khalifah, yang seperti inilah yang bisa membuatku istirahat.”

Suatu hari, di kota Madinah, ketika Khalifah Umar sedang menyelesaikan permasalahan dunia Islam yang semakin luas, seorang utusan datang mengabarkan kematian Abu Ubaidah.

Khalifah Umar memejamkan mata menahan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata. Namun, air mata yang semakin banyak itu tidak kuasa dibendung. Kedua matanya terbuka dan mengalirkan air dengan deras. Ia memohonkan rahmat bagi sahabatnya itu. Semua kenangan manis bersama almarhum terlintas dibenaknya. Kata-kata yang sering ia ucapkan kembali keluar dari lisannya,”Seandainya aku bercita-cita, maka cita-citaku hanyalah memiliki sebuah rumah yang dipenuhi kaum laki-laki seperti Abu Ubaidah.”

Bahkan di detik-detik akhir hayatnya, Khalifah Umar ra. pernah berkata,”Seandainya Abu Ubaidah bin Jarrah masih hidup, aku akan mengangkatnya sebagai penggantiku. Jika nanti Allah menanyakannya, aku akan menjawab,’Aku mengangkat orang kepercayaan Allah dan kepercayaan Rasul-Nya”.

Orang kepercayaan umat ini meninggal dunia diwilayah yang sudah dibersihkannya dari keberhalaan Persia dan penindasan Romawi. Di tanah Yordania jasad mulia ini bersemayam.

-Wallaahu'alam bish showab-

Disarikan dari Buku "60 Sirah Sahabat rasulullah SAW", karya Khalid Muhammad Khalid

Disadur dari http://mtua.rekayasa.co.id

Senin, 04 Juli 2011

Kisah Shahabat (Bilal bin Rabah r.a)

Muazzin Rasulullah dan Simbol Persamaan Derajat

Jika di sebut nama Abu Bakar ra., maka Umar ra. akan berkat, ”Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita.” Seseorang yang diberi gelar oleh Umar ra. sebagai “pemimpin kita”, tentu seseorang tokoh yang layak memperoleh kehormatan seperti itu. Tetapi setiap menerima pujian yang ditujukan kepada dirinya, laki-laki yang berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat dan bercambang tipis ini pasti menundukkan kepala dan memejamkan mata. Lalu dengan air mata membasahi pipinya, ia berkata, “Aku ini orang Habsyi. Baru saja aku dimerdekakan dari statusku sebagai budak belian.”  

Dialah Bilal bin Rabah, yang mengumandangkan seruan Islam dan menggoyahkan kaki-kaki berhala.Dialah satu dari keajaiban keimanan dan kejujuran.

Dari sepuluh orang muslim, disetiap generasi, paling tidak ada tujuh orang yang mengenal Bilal. Artinya, ada ratusan juta orang muslim yang mengenal dengan baik siapa Bilal dan bagaimana kiprahnya dalam perjuangan Islam, sebagaimana mereka mengenal siapa dan bagaimana kiprah dua Khalifah terbesar dalam Islam; Abu Bakar ra. dan Umar ra.

Dimanapun anda berada, di belahan bumi manapun yang dihuni kaum muslimin, anda bisa bertanya kepada anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar, ”Siapakah Bilal itu?”Pasti anda akan mendapatkan jawaban seperti ini, ” Ia adalah muazzin Rasulullah. Sebelumnya, dia seorang budak yang disiksa oleh tuannya dengan batu besar di tengah terik panas, agar ia meninggalkan Islam. Namun ia menjawab, ’Ahad (Allah Maha Esa), Ahad (Allah Maha Esa).” 

Islam menjadikan Bilal dikenang sepanjang masa. Bahkan banyak diantara orang-orang terkemuka, orang-orang berpangkat, para pemimpin dan miliarder tidak dikenang oleh generasi demi generasi, sebagaimana mereka mengenang Bilal yang dulunya seorang budak belian dari Habsyi.

Hitamnya warna kulit, rendahnya kasta, dan hinanya budak belian tidak menutup pintu baginya untuk menempati posisi mulia setelah ia masuk Islam. Semua itu ia peroleh dengan kejujuran, kesungguhan, kesucian hati dan perjuangan tiada henti.

Singkatnya, suatu hari Bilal bin Rabah mendapat cahaya ilahi. Hatinya tergetar oleh sentuhan cahaya tersebut. Lalu ia datang kepada Rasulullah dan masuk Islam. Berita keislaman Bilal pun menyebar. Para tokoh bani Jumah (kabilah dimana Bilal menjadi budak) pusing tujuh keliling dan bukan main malunya. Kabilah ini malu karena dianggap tidak bisa mengatur budaknya yang masuk kedalam agama baru. Terlebih Umayah  bin Khalaf, ia bersumpah ”Tunggulah! Sebelum matahari terbenam, pasti keislaman budakku ini sudah terbenam lebih dulu.” 

Ternyata, matahari pun terbenam tanpa diikuti terbenamnya keislaman Bilal. Bahkan suatu saat nanti, matahari terbenam dan membenamkan berhala-berhala jahiliyah dan para pemujanya.

Saat siksaan sudah mencapai batas kesabaran baik yang disiksa atau para penyiksa, Abu Bakar yang mendengar kabar disiksanya Bilal mendatangi mereka. Ia berkata kepada Umayah, ” Berilah harga yang lebih mahal dari harganya, dan biarlah dia merdeka.” Umayah berseloroh, ”Bawalah dia, seandainya engkau hanya menghargai satu tail emas, aku pasti menerimanya.” Abu Bakar  memahami bahwa kata-kata itu hanyalah basa-basi yang keluar karena keputusasaan. Karena ini menyangkut kehormatan seorang laki-laki yang sekarang telah menjadi saudaranya seiman, Abu Bakar menjawab,”Demi Allah, seandainya kalian menghargainya 100 tail emas, aku pasti membayarnya.”

Setelah Rasulullah saw. bersama kaum muslimin Hijrah dan menetap di Madinah, beliaupun mensyariatkan Azan sebagai penggilan untuk melkukan shalat. Bilal mendapat kehormatan dipilih oleh Rasulullah saw. Menjadi muazzin pertama.

Saat perang Badar berkecamuk, Bilal pun berada disana. Ia berkelebat kesana kemari menebaskan pedangnya. Pada kesempatan ini Bilal berhasil membunuh Umayah  bin Khalaf.

Waktu terus berjalan. Hingga tibalah peristiwa pembebasan kota Mekah. Dengan ditemani Bilal, Rasulullah masuk ke dalam Ka’bah dan menghancurkan semua berhala yang ada di dalamnya. Lalu Rasulullah menyuruh Bilal naik ke bagian atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Sungguh sebuah kemuliaan di tengah suasana yang penuh haru.

Bilal melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah saw. Ia ikut dalam setiap pristiwa penting . Ia menjadi muazzin. Ia menghidupkan dan menjaga syiar-syiar Islam; agama besar yang telah menyelamatkannya dari kegelapan perbudakan.

Setelah wafatnya Rasulullah dan tanggung jawab kepemimpinan kaum muslimin dibebankan pada Abu Bakar, terdapat episode menarik dimana Bilal yang ingin berpartisipasi dalam medan Jihad menyampaikan keinginannya pada Khalifah.

Bilal:      ”Wahai Kalifah. Rasulullah pernah bersabda,’Amal perbuatan seorang mukmin yang paling utama adalah berperang dijalan Allah.”

Khalifah: ” Lalu apa yang anda inginkan?”

Bilal:     ”Aku ingin tetap tergabung dalam pasukan perang hingga syahid.”

Khalifah: ”Lantas Siapa yang menjadi muazzin?”

Bilal:      Seraya menangis ”Aku tidak akan menjadi muazzin setelah Rasulullah wafat.”

Khalifah: ”Tidak, engkau harus tetap disini dan menjadi muazzin”

Bilal:     ”Jika sewaktu menebusku engkau ingin menjadikan aku budak, maka aku akan menuruti kemamuanmu. Namun jika penebusan itu karena Allah, maka biarkan aku bebas memilih.”

Khalifah: ”Aku menebusmu karena Allah.”

Bilalpun berangkat kemedan jihad kala itu, di wilayah Syam.

Umar ra. menjadi pengganti Abu Bakar ra. setelah beliau wafat. Saat mengunjungi Syam, kaum muslimin di sana memohon kepada Khalifah Umar ra. agar meminta Bilal mengumandangkan azan walaupun hanya sekali. Bilal dengan perasaan yang berat naik ke menara dan mengumandangkan azan. Para sahabat yang pernah hidup bersama Rasulullah menangis tersedu-sedu, seakan belum pernah menangis. Terutama Khalifah Umar ra.

Bilal ra. wafat di Syam, di medan jihad, seperti yang di inginkan . Di tanah Damaskus, jasad laki-laki agung ini dikuburkan. 

Kisah Bilal dalam sejarah kehidupan bukan hanya kemuliaan bagi Islam, tetapi kemuliaan bagi seluruh umat manusia. Ia telah mampu menghadapi berbagai macam siksa dengan kesabaran dan ketangguhan tiada tara. Seakan Allah menjadikannya simbol teladan, bahwa hitamnya warna kulit dan status sebagai budak belian, sama sekali tidak menghalangi kebesaran jiwa, ketika jiwa telah mengenal Tuhannya dan mengetahui apa yang harus dilakukan.

Bilal telah memberikan pelajaran kepada orang-orang di zamannya dan setiap zaman, kepada orang-orang yang seagama dengannya dan tidak seagama. Pelajaran bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani, tidak dapat ditukar dengan emas sebanyak apapun atau tidak akan goyah dengan siksa seberat apapun.

-Wallaahu’alam bish showab-


Disarikan dari Buku “60 Sirah Sahabat rasulullah SAW”, karya Khalid Muhammad Khalid…
http://mtua.rekayasa.co.id/index.php/sirah/sahabat/213-bilal-bin-rabah.html

Disadur dari http://muchlisin.blogspot.com

Senin, 27 Juni 2011

Kisah Shahabat (Hudzaifah Ibnul Yaman r.a)

Sahabat Rasulullah SAW yang kita bicarakan kali ini adalah Hudzaifah Ibnul Yaman. Hudzaifah Ibnu Yaman, intelejen Rasulullah yang juga digelari “Shahibu Sirri Rasulullah” (Pemegang rahasia Rasulullah) ini menjadi sahabat ke-13 yang kita kaji sirah-nya dalam Sirah Sahabat blog Bersama Dakwah. Selamat membaca.
***

“Jika engkau ingin digolongkan kepada Muhajirin, engkau memang Muhajir. Dan jika ingin digolongkan kepada Anshar, engkau memang seorang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai.”

Itulah kalimat yang diucapkan Rasulullah SAW kepada Hudzaifah Ibnul Yaman, ketika dia pertama kali bertemu muka dengan beliau di Makkah. Mengenai pilihan itu, apakah dia tergolong Muhajirin atau Anshar, yaitu dua golongan yang dicintai kaum muslimin, mempunyai kisah tersendiri bagi Hudzaifah.

Al-Yaman, ayah Hudzaifah, adalah orang Makkah dari Bani Abbas. Oleh karena suatu hutang darah dalam kaumnya, dia terpaksa menyingkir dari Makkah ke Yatsrib (Madinah). Di sana dia minta perlindungan pada Bani Abd Asyhal dan bersumpah setia pada mereka untuk menjadi keluarga dalam persukuan Bani Abd Asyhal. Kemudian dia menikah dengan anak perempuan suku Asyhal. Dari perkawinannya itu lahirlah anaknya, Hudzaifah. Maka hilanglah halangan yang menghambat Al-Yaman untuk memasuki kota Makkah. Sejak saat itu dia bebas pulang pergi antara Makkah dan Madinah. Namun begitu, dia lebih banyak tinggal dan menetap di Makkah.

Ketika Islam memancarkan cahayanya ke seluruh jazirah Arab, Al-Yaman termasuk salah seorang dari sepuluh orang Bani Abbas untuk menemui Rasulullah SAW dan menyatakan Islam di hadapan beliau. Segala peristiwa yang kita sebutkan itu terjadi sebelum hijrah Rasulullah ke Madinah. Sesuai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu menurut garis keturunan bapak (patriarchal), maka Hudzaifah adalah orang Makkah yang lahir dan dibesarkan di Madinah.

Hudzaifah ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua ibu bapaknya yang telah memeluk agama Allah, sebagai rombongan pertama. Karena itu Hudzaifah telah Islam sebelum dia bertemu muka dengan Rasulullah SAW.

Kemudian Hudzaifah hendak bertemu dengan Rasulullah SAW memenuhi setiap rongga hatinya. Sejak masuk Islam, dia senantiasa menunggu-nunggu berita, dan nyinyir bertanya tentang kepribadian dan ciri-ciri beliau. Bila hal itu dijelaskan orang kepadanya, makin bertambah cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah.

Pada suatu hari dia berangkat ke Makkah sengaja hendak menemui Rasulullah. Setelah bertemu, Hudzaifah bertanya kepada beliau, “Apakah saya ini seorang muhajir atau Anshar, ya Rasulullah?”

Jawab Rasulullah, “Jika engkau ingin disebut muhajir, engkau memang seorang muhajir; dan jika engkau ingin disebut Anshar, engkau memang orang Anshar. Pilihlah mana yang engkau sukai.”

Jawab Hudzaifah, “Aku memilih Anshar, ya Rasulullah!.”

Setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, Hudzaifah selalu mendampingi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam perang Badar. Mengapa dia tidak turut dalam perang Badar? Soal ini pernah diceritakan oleh Hudzaifah.

Katanya: Yang menghalangiku untuk turut berperang dalam peperangan Badar karena ketika itu aku dan bapakku sedang pergi ke luar kota Madinah. Dalam perjalanan pulang, kami ditangkap oleh kaum kafir Quraisy. Tanya mereka, “Hendak ke mana kalian?”
Jawab kami, “Ke Madinah!”
Tanya mereka, “Kalian hendak menemui Muhammad?”
Jawab kami, “Kami hendak pulang ke rumah kami, di Madinah!”

Mereka tidak bersedia membebaskan kami kecuali dengan perjanjian bahwa kami tidak akan membantu Muhammad, dan tidak akan memerangi mereka. Sesudah itu barulah kami dibebaskannya.

Setelah bertemu dengan Rasulullah, kami ceritakan kepada beliau peristiwa tertangkapnya kami oleh kaum kafir Quraisy dan perjanjian dengan mereka. Lalu kami tanyakan kepada beliau, apa yang harus kami lakukan.

Jawab Rasulullah, “Batalkan perjanjian itu, dan mari kita mohon pertolongan Allah untuk mengalahkan mereka!”

Dalam peperangan Uhud, Hudzaifah turut memerangi kaum kafir bersama-sama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam peperangan itu Hudzaifah mendapat cobaan besar. Dia pulang dengan selamat, tetapi bapaknya tewas di Uhud, menjadi syahid. Bapaknya syahid oleh pedang kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum musyrikin.

Ceritanya, pada hari terjadinya perang Uhud, Rasulullah SAW menugaskan Al-Yaman (ayah Hudzaifah) dan Tsabit bin Waqsy mengawal benteng tempat para wanita dan anak-anak, karena keduanya sudah lanjut usia. Ketika perang memuncak dan berkecamuk dengan sengit, Al-Yaman berkata kepada temannya, “Bagaimana pendapatmu; apalagi yang harus kita tunggu. Umur kita hanya tinggal selama menunggu keledai puas minum. Kita mungkin saja mati hari ini atau besok. Apakah tidak lebih baik kita ambil pedang lalu menyerbu ke tengah-tengah musuh membantu Rasulullah. Mudah-mudahan Allah SWT memberi kita rezeki menjadi syuhada bersama-sama dengan Nabi-Nya.” Lalu keduanya mengambil pedang mereka, dan terjun ke arena pertempuran.

Tsabit bin Waqsy memperoleh kemuliaan di sisi Allah. Dia syahid di tangan kaum musyrikin. Tetapi Al-Yaman bapak Hudzaifah menjadi sasaran pedang kaum muslimin sendiri, karena mereka tidak mengenalnya. Hudzaifah berteriak, “Itu bapakku…! Itu bapakku…!”

Tetapi sayang, tidak seorang pun yang mendengar teriakannya., sehingga bapaknya jatuh tersungkur oleh teman-temannya sendiri. Hudzaifah tidak berkata apa-apa, kecuali hanya berdoa, “Semoga Allah SWT mengampuni kalian; Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Rasulullah SAW memutuskan untuk membayar tebusan darah (diyat) bapak Hudzaifah kepada anaknya, Hudzaifah. Kata Hudzaifah, “Bapakku menginginkan supaya dia mati syahid. Keinginannya itu kini telah dicapainya. Wahai Allah! Saksikanlah, sesungguhnya aku menyedekahkan diyat darah bapakku kepada kaum muslimin.”

Maka dengan pernyataannya itu, penghargaan Rasulullah terhadap Hudzaifah bertambah tinggi dan mendalam.

Rasulullah SAW menilai, dalam pribadi Hudzaifah ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol: pertama, cerdas tiada bandingan, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat, memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi; sehingga tak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.

Sudah menjadi salat satu kebijaksanaan Rasulullah, berusaha menyingkap keistimewaan para shahabatnya, dan menyalurkannya sesuai dengan bekat dan kesanggupan yang terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yakni menempatkan seseorang pada tempat yang selaras.

Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah adalah keahdiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang dilancarkan mereka terhadap Rasulullah dan para sahabat. Maka dalam menghadapi kesulitan itu, Rasulullah mempercayakan suatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah ibnul Yaman, dengan memberikan daftar nama orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga sekarang, baik kepada para sahabat yang lain atau kepada siapa saja. Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah menugaskan Hudzaifah memonitor setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka, untuk mencegah bahaya yang mungkin dilontarkan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Dan karena itu, Hudzaifah ibnul Yaman digelari oleh para sahabat dengan “Shahibu Sirri Rasulullah” (Pemegang rahasia Rasulullah).

Pada suatu ketika, Rasulullah memerintahkan Hudzaifah melaksanakan suatu tugas yang amat berbahaya, dan membutuhkan keterampilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena itulah beliau memilih orang yang cerdas, tanggap dan berdisiplin itnggi. Peristiwa itu terjadi pada puncak peperangan Khandaq. Kaum muslimin telah lama dikepung rapat oleh musuh, sehingga mereka merasakan ujian yang berat, menahan penderitaan yang hampir tak tertanggungkan, serta kesulitan-kesulitan yang tak teratasi. Semakin hari situasi semakin gawat, sehingga menggoyahkan hati yang lemah. Bahkan menjadikan sementara kaum muslimin berprasangka yang tidak wajar terhadap Allah SWT.

Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menetukan itu, kaum Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari orang-orang musyrik, tidak lebih baik keadaannya dari pada yang dialami kaum muslimin. Karena murka-Nya, maka Allah Azza wa Jalla menimpakan bencana kepada mereka dan melemahkan kekuatannya. Allah meniupkan angin topan yang amat dahsyat, sehingga menerbangkan kemah-kemah mereka, membalikkan periuk, kauli dan belanga, memadamkan api, menyiram muka mereka dengan pasir dan menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.

Pada situasi genting dalam sejarah setiap peperangan, pihak yang kalah ialah yang lebih dahulu mengeluh dan pihak yang menang ialah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi lawannya. Maka dalam detik-detik seperti itu, amat diperlukan informasi secepatnya mengenai kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan dalam mengambil keputusan melalui musyawarah.

Ketika itulah Rasulullah membutuhkan keterampilan Hudzaifah ibnul Yaman, untuk mendapatkan info-info yang tepat dan pasti. Maka beliau memutuskan untuk mengirim Hudzaifah ke jantung pertahanan musuh, dalam kegelapan malam yang hitam pekat. Marilah kita dengarkan bagaimana dia melaksanakan tugas maut tersebut.

Kata Hudzaifah: Malam itu kami (tentara muslimin) duduk berbaris, Abu Sufyan dengan dua baris pasukannya kaum musyrikin. Makkah mengepung kami sebelah atas. Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah berada di sebelah bawah. Yang kami khawatirkan ialah serangan mereka terhadap para wanita dan anak-anak kami. Malam sangat gelap. Belum pernah kami alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak dapat melihat anak jari kami sendiri. Angin bertiup sangat kencang sehingga desirannya menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik minta izin untuk pulang kepada Rasulullah dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal sebenarnya rumah mereka terkunci.

Setiap orang yang minta izin pulang, diberi izin oleh Rasulullah, tidak ada yang dilarang atau ditahan beliau. Smeuanya keluar dengan sembunyi-sembunyi, sehingga kami yang tetap bertahan, hanya tinggal 300 orang.

Rasulullah berdiri dan berjalan memeriksa kami satu per satu. Setelah beliau sampai ke dekatku, aku meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin yang menusukku, selain sehelai sarung butut kepunyaan istriku, yang hanya dapat menutupi hingga lutut. Beliau mendekatiku yang sedang menggigil, seraya bertanya, “Siapa ini?”
“Hudzaifah.” Jawabku.
“Hudzaifah!” Tanya Rasulullah minta kepastian. Aku merapat ke tanah sulit berdiri karena lapar dan dingin.
“Betul, ya Rasulullah!” jawabku.
“Ada beberapa peristiwa yang dialami musuh; pergilah engkau ke sana dengan sembunyi-sembunyi untuk mendapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera!” kata beliau memerintah.

Aku bangun dengan ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk. Maka Rasulullah berdoa, “Wahai Allah, lindungilah dia, dari depan, dari belakang, kanan, kiri, atas, dan dari bawah.”

Demi Allah! Sesudah Rasulullah selesai berdoa, ketakutan yang menghantui dalam dadaku, dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seketika, sehingga aku merasa segar dan perkasa. Tatkala aku memalingkan diriku dari Rasulullah, beliau memanggilku dan berkata, “Hai, Hudzaifah! Sekali-kali jangan melakukan tindakan yang mencurigakan mereka sampai tugasmu selesai, dan kembali melapir kepadaku!”
Jawabku, “Saya siap, ya Rasulullah!”

Lalu aku pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Aku berhasil menysuup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah aku anggota pasukan mereka. Belum lama aku berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba terdengar Abu Sufyan memberi komando.

Katanya, “hai pasukan Quraisy! Dengarkan aku berbicara kepada kamu sekalian. Aku sangat khawatir, hendaknya pembicaraanku ini jangan sampai terdengar oleh Muhammad. Karena itu telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian masing-masing!”

Mendengar ucapan Abu Sufyan itu, aku segera memegang tangan yang di sampingku seraya bertanya, “Siapa kamu?”

Jawabnya, “Aku di anu, anak si anu!”

Sesudah dirasanya aman, Abu Sufyan melanjutkan bicaranya, “Hai pasukan Quraisy! Demi Tuhan! Sesungguhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhan berkhianat meninggalkan kita. Angin topan menyerang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu berangkatlah kalian sekarang dan tinggalkan tempat ini. Sesungguhnya aku sendiri akan berangkat.”

Selesai berkata begitu, Abu Sufyan langsung mendekati untanya, dilepaskannya tali penambat, lalu dinaiki dan dipukulnya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sungguh telah kubunuh Abu Sufyan dengan pedangku.

Aku kembali ke pos komando menemui Rasulullah. Kudapati beliau sedang shalat di tikar kulit, milik salah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu kulaporkan kepada beliau segala kejadian yang kulihat dan kudengar. Beliau sangat senang dan bersuka hati, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT.

Hudzaifah ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang munafik selama hidupnya. Sehingga kepada para khalifah sekalipun, yang mencoba mengorek rahasia tersebut tidak pernah bocor olehnya. Sampai-sampai khalifah Umar bin Khattab r.a. apabila ada orang muslim yang meninggal, dia bertanya, “Apakah Hudzaifah turut menyalatkan jenazah orang itu?” Jika mereka jawab ada, beliau turut menyalatkannya. Bila mereka menjawab tidak, beliau enggan menyalatkannya.

Pada suatu ketika khalifah Umar pernah bertanya kepada Hudzaifah dengan cerdki, “Adakah diantara pegawai-pegawaiku orang munafik?”
Jawab Hudzaifah, “Ada seorang!”
Kata Umar, “Tolong tunjukkan kepadaku, siapa?”
Jawab Hudzaifah, “Maaf Khalifah, saya dilarang Rasulullah mengatakannya.”
“Seandainya aku tunjukkan, tentu khalifah akan langsung memecat pegawai yang bersangkutan,” kata Hudzaifah bercerita.

Namun begitu, amat sedikit orang yang mengetahu Hudzaifah ibnul Yaman sesungguhnya adalah pahlawan penakluk Hamadzan dan Rai. Dia membebaskan kota-kota tersebut bagi kaum muslimin dari genggaman kekuatan Persia yang menuhankan berhala. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragaman mushaf Al-Qur’an, sesudah Kitabullah itu beraneka ragam coraknya di tangan kaum muslimin. Dan Hudzaifah, hamba Allah yang sangat takut kepada Allah, dia juga takut melanggar perintah dan larangan Allah, dan sangat takut akan sika-Nya.

Ketika Hudzaifah sakit keras menjelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya tengah malam.

Hudzaifah bertanya kepada mereka, “Jam berapa sekarang?”
Jawab mereka, “Sudah dekat Subuh.”
Kata Hudzaifah, “Aku berlindung kepada Allah dari Subuh yang menyebabkan aku masuk neraka.”
Kemudian dia bertanya, “Adakah tuan-tuan membawa kafan?”
Jawab mereka, “Ada!”
Kata Hudzaifah, “Tidak perlu kafan yang mahal. Jika diriku baik dalam penilaian Allah, Dia akan menggantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika tidak baik dalam pandangan Allah Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuhku.”

Sesudah itu dia berdoa, “Wahai Allah. Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa aku lebih suka fakir dari pada kaya, aku lebih suka sederhana dari pada mewah, dan aku lebih suka mati dari pada hidup.”

Sesudah berdoa begitu ruhnya berangkat. Seorang kekasih Allah kembali kepada Allah dalam kerinduan. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Hudzaifah Ibnul Yaman.[sumber: Kepahlawanan Generasi Shahabat Rasulullah SAW]

Disadur dari http://muchlisin.blogspot.com

Minggu, 26 Juni 2011

Hadits Arba’in An Nawawi (Hadits 10)

HADITS KESEPULUH
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ تَعَالَى :  ,يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحاً - وَقاَلَ تَعَالَى : , يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ - ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ ياَ رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ .
[رواه مسلم]
Terjemah hadits /  ترجمة الحديث :
Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Allah ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang beriman sebagaimana dia memerintahkan para rasul-Nya dengan firmannya : Wahai Para Rasul makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah. Dan Dia berfirman : Wahai orang-orang yang beriman makanlah yang baik-baik dari apa yang Kami rizkikan kepada kalian. Kemudian beliau menyebutkan ada seseorang melakukan perjalan jauh dalam keadaan kumal dan berdebu. Dia memanjatkan kedua tangannya ke langit seraya berkata : Yaa Robbku, Ya Robbku, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan kebutuhannya dipenuhi dari sesuatu yang haram, maka (jika begitu keadaannya) bagaimana doanya akan dikabulkan.
(Riwayat Muslim).
Pelajaran :
1.     Dalam hadits diatas terdapat pelajaran akan sucinya Allah ta’ala dari segala kekurangan dan cela.
2.     Allah ta’ala tidak menerima kecuali sesuatu yang baik. Maka siapa yang bersedekah dengan barang haram tidak akan diterima.
3.     Sesuatu yang disebut baik adalah apa yang dinilai baik disisi Allah ta’ala.
4.     Berlarut-larut dalam perbuatan haram akan menghalangi seseorang dari terkabulnya doa.
5.     Orang yang maksiat tidak termasuk mereka yang dikabulkan doanya kecuali mereka yang Allah kehendaki.
6.     Makan barang haram dapat merusak amal dan menjadi penghalang diterimanya amal perbuatan.
7.     Anjuran untuk berinfaq dari barang yang halal dan larangan untuk berinfaq dari sesuatu yang haram.
8.     Seorang hamba akan diberi ganjaran jika memakan sesuatu yang baik dengan maksud agar dirinya diberi kekuatan untuk ta’at kepada Allah.
9.     Doa orang yang sedang safar dan yang hatinya sangat mengharap akan terkabul.
10.   Dalam hadits terdapat sebagian dari sebab-sebab dikabulkannya do’a : Perjalanan jauh, kondisi yang bersahaja dalam pakaian dan penampilan dalam keadaan kumal dan berdebu, mengangkat kedua tangan ke langit, meratap dalam berdoa, keinginan kuat dalam permintaan, mengkonsumsi makanan, minuman dan pakaian yang halal.

Disadur dari http://haditsarbain.wordpress.com 

Senin, 20 Juni 2011

Kisah Shahabat (Hakim bin Hazam bin Khuwailid r.a)

Pernahkah Anda mendengar berita tentang sahabat ini? Sejarah mencatat, dia adalah satu-satunya anak yang lahir dalam ka’bah yang agung.

Pada suatu hari ibunya yang sedang hamil tua masuk ke dalam ka’bah bersama-sama rombongan orang-orang sebayanya, untuk melihat-lihat ka’bah. Hari itu ka’bah dibuka untuk umum sesuai dengan ketentuan. Ketika berasa dalam ka’bah, tiba-tiba si ibu mulas hendak melahirkan. Dia tidak sanggup lagi berjalan keluar ka’bah. Maka diberikan orang tikar kulit kepadanya, dan lahirlah bayinya di atas tikar tersebut.

Bayi itu ialah Hakim bin Hazam bin Khuwailid, yaitu anak laki-laki dari saudara Ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid.

Hakim bin Hazam dibesarkan dalam keluarga turunan bangsawan yang berakar dalam dan terkenal kaya raya. Karena itu tidak heran kalau dia menjadi orang pandai, mulia dan banyak berbakti. Dia diangkat menjadi kepala kaumnya, dan diserahi urusan rifadah (yaitu lembaga yang memberi bantuan kepada jamaah haji yang kehabisan bekal) di masa jahiliyah. Untuk itu dia banyak bersahabat dekat dengan Rasulullah SAW, sebelum beliau menjadi Nabi. Sekalipun Hakim bin Hazam kira-kira lima tahun lebih tua dari Nabi SAW, tetapi dia lebih senang, lebih ramah dan lebih suka berteman dan bergaul dengan beliau. Rasulullah mengimbanginya pula dengan kasih sayang dan persahabatan yang lebih akrab. Kemudian ditambah pula dengan hubungan kekeluargaan, karena Rasulullah menikahi bibi Hakim, Khadijah binti Khuwailid r.a. Maka hubungan antara keduanya bertambah erat.

Anda boleh jadi heran, walaupun hubungan persahabatan dan kekerabatan antara keduanya demikian erat, ternyata Hakim tidak segera masuk Islam, melainkan sesudah pembebasan kota Makkah dari kekuasaan kafir Quraisy, kira-kira dua puluh tahun sesudah Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Diperkirakan orang Hakim bin Hazam, yang dikaruniai Allah akal sehat dan pikiran tajam ditambah dengan hubungan kekeluargaan, serta persahabatan yang akrab dengan Rasulullah, menjadi mukmin pertama-tama, membenarkan dakwah Muhammad, dan menerima ajarannya dengan spontan.

Tetapi kehendak Allah lain. Dan kehendak Allah itu jualah yang berlaku.

Kita heran dengan terlambatnya Hakim bin Hazam masuk Islam, tetapi Hakim sendiri pun tidak kurang keheranannya akan hal itu. Maka setelah dia masuk Islam dan merasakan nikmat iman, timbullah penyesalan mendalam, karena umurnya hampir habis dalam kemusyrikan dan mendustakan Nabi-Nya.

Putranya pernah melihat dia menangis. Dan ia bertanya, ”Mengapa Bapak menangis?”
”Banyak sekali hal-hal yang menyebabkan Bapak menangis, hai anakku!” jawab Hakim.

”Pertama, keterlambatan masuk Islam menyebabkan aku tertinggal merebut banyak kebajikan. Seandainya aku nafkahkan emas sepenuh bumi, belum seberapa artinya dibandingkan dengan kebajikan yang mungkin aku peroleh dengan Islam. Kedua, sesungguhnya Allah telah menyelamatkan dalam perang Badar dan Uhud. Lalu aku berkata pada diriku ketika itu, aku tidak lagi akan membantu kaum Quraisy memerangi Muhammad, dan tidak akan keluar dari kota Makkah. Tetapi aku senantiasa ditarik-tarik kaum Quraisy untuk membantu mereka.

Ketiga, setiap aku hendak masuk Islam, aku loihat pemimpin-pemimpin Quraisy yang lebih tua tetao berpegang pada kebiasaan-kebiasaan jahiliyah. Lalu aku ikut saja mereka secara fanatik.

Kini aku menyesal, mengapa aku tidak masuk Islam lebih dini. Yang mencelakakan kita tidak lain, melainkan fanatik buta terhadap bapak-bapak dan orang-orang tua kita. Bagaimana aku tidak akan menangis karenanya, hai anakku?”

Sebagaimana kita heran terlambatnya Hakim bin Hazam masuk Islam, begitu pulalah dia heran terhadap dirinya. Rasulullah pun heran terhadap orang yang berpikiran tajam dan berpaham luas seperti Hakim bin Hazam, tapi menutup diri untuk menerima Islam. Padahal dia dan golongan orang-orang yang seperti dia ingin segera masuk Islam.

Semalam sebelum memasuki kota Makkah, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabat, ”Di Makkah terdapat empat orang yang tidak suka kepada kemusyrikan, dan lebih cenderung kepada Islam.”

”Siapa mereka itu, ya Rasulullah,” Tanya para sahabat. ”mereka ialah: Attab bin Usaid, Jubair bin Muth’im, Hakim bin Hazam, dan Suhail bin Amr.” Maka dengan karunia Allah, mereka masuk Islam secara serentak.

Ketika Rasulullah SAW masuk kota Makkah sebagai pemenang, beliau tidak ingin memperlakukan Hakim bin Hazam melainkan dengan cara terhormat. Maka beliau perintahkan juru pengumuman agar menyampaikan beberapa pengumuman:
”Siapa yang mengaku tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan mengaku Muhammad sesungguhnya hamba Allah dan Rasul-Nya, maka dia aman.
Siapa yang mengunci pintu rumahnya, maka dia aman.
Siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, makan dia aman.
Siapa yang masuk rumah Hakim bin Hazam, maka dia aman.”

Rumah Hakim bin Hazam terletak di kota Makkah bagian bawah, sedangkan rumah Abu Sufyan bin Harb terletak di bagian atas kota Makkah.

Hakim bin Hazam memeluk Islam dengan sepenuh hati. Dan iman mendarah daging di kalbu. Dia bersumpah akan selalu menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan jahiliyah, dan menghentikan bantuan dana kepada Quraisy untuk memusuhi Rasulullah dan para sahabat beliau. Hakim menepati sumpahnya dengan sungguh-sungguh.

Sekali peristiwa di Darun Nadwah (Balai Sidang), suatu tempat terhormat bagi kaum Quraisy di masa jahiliyah untuk bermusyawarah, para pemimpin, tetua-tetua, dan para pembesar memutuskan hendak membunuh Rasulullah SAW. Hakim ingin melepaskan diri dari kenangan pada putusan tersebut. Untuk itu dia membuat tirai penutup yang dapat melupakan ingatannya pada masa lalu yang dibencinya itu. Lalu dibelinya gedung Darun nadwah tersebut seharga seratus ribu dirham.

Para pemuda Quraisy bertanya kepadanya, ”Untuk apa gedung yang dimuliakan kaum Quraisy itu Anda beli, hai paman?”

Hakim menjawab, ”Bukan begitu, hai anakku! Segala kemuliaan telah sirna. Yang mulia hanyalah taqwa. Aku tidak hendak membelinya, melainkan karena ingin menjual kembali untuk membeli rumah di surga. Aku saksikan kepada kalian semuanya, uang harganya akan kusumbangkan untuk perjuangan fi sabilillah.”

Sesudah masuk Islam, Hakim bin Hazam pergi menunaikan ibadah haji. Dia membawa seratus ekor unta yang diberinya pakaian kebesaran yang megah. Kemudian unta-unta itu disembelihnya sebagai kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Waktu hajii tahun berikutnya, dia wukuf di Arafah beserta seratus orang hamba sahayanya. Masing-masing sahaya tergantung di lehernya sebuah kalung perak bertuliskan:
”Bebas karena Allah Azza wa Jalla, dari Hakim bin Hazam.”

Selesai menunaikan ibadah haji, budak-budak itu dimerdekakannya semuanya.

Waktu naik haji ketiga kalinya, Hakim bin Hazam mengurbankan seribu ekor biri-biri, seribu ekor persis, disembelihnya di Mina, utnuk dimakan dagingnya oleh fakir miskin, guna mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.

Sesudah perang Hunain, Hakim bin Hazam meminta harta rampasan perang kepada Rasulullah SAW, lalu diberi oleh beliau. Kemudian dimintanya lagi, maka diberi pula oleh beliau. Akhirnya harta rampasan perang yang diterima Hakim dengan jalan meminta itu berjumlah seratus ekor unta yang kini menjadi cerita (hadits) dalam Islam.

Maka bersabda Rasulullah kepada Hakim, ”Sesungguhnya harta itu manis dan enak. Siapa yang mengambilnya dengan rasa syukur dan rasa cukup, dia akan diberi barakah dengan harta itu. Dan siapa yang mengambilnya dengan nafsu serakah, dia tidak akan mendapat barakah dengan harta itu, bahkan dia seperti orang makan yang tidak pernah merasa kenyang. Tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (meminta atau menerima).”

Mendengar sabda Rasulullah tersebut, Hakim bin Hazam bersumpah. ”Ya Rasulullah! Demi Allah yang mengutus engkau dengan agama yang baik, aku berjanji tidak akan meinta-minta apapun kepada siapa saja sesudah ini. Dan aku berjanji tidak akan mengambil sesuatu dari orang lain sampai aku berpisah dengan dunia!”

Sumpah tersebut dipenuhi Hakim dengan sungguh-sungguh. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, lebih dari satu kali Hakim bin Hazam dipanggil Abu Bakar supaya mengambil gajinya dari baitul mal. Tetapi dia tidak mengambilnya. Tatkala jabatan Khalifah pindah kepada Umar Al-Faruq, Hakim pun tidak mau mengambil gajinya setelah dipanggil beberapakali.

Khalifah Umar mengumumkan di hadapan orang banyak. ”Ya ma’asyiral muslimin! Saya telah memanggil Hakim bin Hazam beberapa kali supaya mengambil gajinya dari baitul mal. Tetapi dia tidak mengambilnya!”

Bagitulah, sejak mendengar sabda Rasulullah tersebut di atas, Hakim selamanya tidak mau mengambil sesuatu dari seseorang sampai dia meninggal. [Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah SAW]

Disadur dari http://muchlisin.blogspot.com